Tampilkan postingan dengan label Agama dan Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama dan Hikmah. Tampilkan semua postingan

Perang Pemikiran

20:46 Add Comment
Perang Pemikiran
(•)Seorang Guru wanita; sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru berkata; ”Saya punya permainan…”

(•)Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.

(•)Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tentu saja murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit.


(•)Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. “Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai mengikutinya.

(•)Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik nilai.”Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, selingkuh dan zinah tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan, materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, dan lain-lain.”

(•)”Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya. “Paham buu…”.

“Baik permainan kedua…” begitu Bu Guru melanjutkan. “Bu Guru punya buku, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil buku yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?” Nah, nah, nah. Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya, dan ia ambil bukunya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet.

(•)”Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya… Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan… Karena tentu kalian akan menolaknya mentah mentah. Preman pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.

(•)”Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

(•)Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka… Dan itulah yang mereka inginkan.”

(•)”Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran)”.
“Dan inilah yang sedang dijalankan oleh musuh musuh kalian…”
“Paham anak-anak ?” Paham Buu..!

(•)“Jazakallah Khair,,,(•)

___________________

((^Dinie Az Zahra^))

Berani bayar mahal

21:44 Add Comment
Berani bayar mahal
Di jaman khalifah Umar bin Khattab RA, kota Madinah pernah dilanda musim paceklik. Datanglah kafilah dari negeri Syam dengan 1000 onta membawa bahan makanan untuk dijual kepada sahabat Ustman bin Affan RA. Dibelilah barang itu olehnya.

Menyusul setelah itu banyak pedagang yang berminat mau membeli barang tersebut dari beliau untuk dijual kembali dengan harga tinggi dan mendapat keuntungan yang besar.

"Berapa kau berani bayar barangku," tanya beliau.

"Kubayar dengan keuntungan lima kali lipat," jawab mereka.

"Oh, saya masih rugi."


"Aku berani kasih keuntungan kepadamu sepuluh kali lipat," jawab yang lain.

"Masih rugi."

"Tak ada pedagang lain yang berani kasih keuntungan lebih dari itu," kata orang itu.

"Ada," jawab beliau.

"Siapa?."

"Allah."

Lalu beliau Ustman bin Affan RA menukil surat Al-Baqaroh ayat 261 bahwa mereka yang menafkahkan harta di jalan Allah akan dibalasnya oleh-Nya dengan 700 kali lipat.

"Adakah di antara kalian berani memberi keuntungan lebih dari itu?," tanya beliau.

Tentu semua pedagang hanya tercengang mendengar jawaban beliau RA. Mereka tak berani menawarnya.

"Saksikan kalian para pedagang, semua barang ini kami sedekahkan kepada fakir miskin, sebab Dia-lah (Allah) yang berani membayar mahal."

[Disarikan dari Salam Canda 2, RM. Yunani, cetakan I, 1996, penerbit H.I. Press]

Ilmu bukan di buku

21:41 Add Comment
Ilmu bukan di buku
Bertahun-tahun lamanya pemuda yang kemudian dikenal sebagai Imam Ghozali itu, menuntut ilmu di Naishabur. Ketika pulang ke negeri asalnya di Thus bersama rombongan kafilah, di tengah perjalanan mereka dicegat perampok. Semua barang dirampas habis, termasuk barang bawaan Imam Ghozali.

"Kalian boleh mengambil seluruh barang-barangku, kecuali yang satu ini," katanya.

Perampok yang semakin penasaran itu malah merebut kembali barang itu. Betapa kecewanya mereka setelah diketahui bahwa barang yang dianggap- nya bernilai itu cuma buku-buku dan kumpulan catatan.

"Apa ini?."


"Sesuatu yang tak ada gunanya bagi kalian, namun sangat berharga bagiku."

"Jadi apa ini?."

"Ilmuku. Aku memperolehnya setelah bertahun-tahun belajar di Naishabur," katanya.

"Hanya pada lembaran kertas itukah ilmumu?," tanya mereka.

"Ya," jawab Imam Ghozali.

"Ilmu yang disimpan dalam lembaran kertas di bungkusan itu sebenarnya bukanlah ilmumu. Ilmu semacam itu bisa hilang dan dirampok," kata mereka.

Imam Ghozali menjadi tersentak mendengar ucapan perampok itu. Dipikir-pikir benar juga ucapan mereka. Yang benar, tempatnya ilmu bukan di buku, melainkan di dalam hati dan otak. Di tempat itulah ilmu tak mungkin bisa hilang atau dirampok orang.

[Disarikan dari Salam Canda 2, RM. Yunani, hal. 96-97, cetakan I, 1996, penerbit H.I. Press]